METRO BEKASI – Provinsi Aceh saat ini tengah menghadapi bencana alam berskala luas, di mana hujan dengan intensitas tinggi sejak beberapa hari lalu menyebabkan banjir dan tanah longsor di setidaknya 16 kabupaten/kota. Gubernur Aceh telah menetapkan status tanggap darurat bencana untuk memastikan penanganan optimal bagi puluhan ribu warga yang terdampak.
Detail Kejadian dan Area Terdampak
Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan bahwa bencana ini telah meluas ke berbagai daerah, termasuk Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Singkil.
Di Kabupaten Aceh Tengah, seluruh akses jalur darat terputus total akibat banjir dan tanah longsor, menyebabkan daerah tersebut lumpuh. Situasi serupa terjadi di Aceh Singkil, di mana luapan Sungai Lae Cinendang merendam ribuan rumah di 8 kecamatan dan 43 desa.
Laporan terkini dari Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBA menyebutkan bahwa ketinggian air di beberapa wilayah, seperti Gampong Pasie Mesjid dan Gampong Ateung Teupat di Aceh Barat, mulai naik ke badan jalan, dengan tinggi genangan di daerah lain mencapai 50-80 cm.
Korban dan Kerusakan
Data sementara per 27 November 2025, mencatat lebih dari 20.700 jiwa mengungsi, dan satu orang dilaporkan hilang terseret arus banjir. Jumlah total warga terdampak mencapai lebih dari 97 ribu jiwa.
Selain itu, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,3 juga mengguncang wilayah Sinabang di Simeulue, menyebabkan kerusakan pada fasilitas publik seperti puskesmas dan masjid, serta melukai 12 warga, menambah kompleksitas situasi bencana di Aceh.
Upaya Penanganan
Pemerintah Aceh, melalui BPBA dan tim gabungan, terus berupaya melakukan evakuasi, pendataan, dan distribusi bantuan logistik kepada warga terdampak. Alat berat telah dikerahkan untuk membersihkan material longsor dan banjir yang menumpuk di sejumlah lokasi di Aceh Tenggara.
Gubernur Aceh menekankan komitmen pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar para korban selama masa tanggap darurat yang berlaku hingga 11 Desember 2025. Pihak berwenang mengimbau masyarakat di daerah rawan bencana untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan tinggi masih diperkirakan terjadi.
Untuk informasi terkini dan bantuan darurat, masyarakat dapat memantau perkembangan situasi melalui portal resmi Badan Penanggulangan Bencana Aceh.***










