Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner 970x250
NASIONAL

Dicopot Wamenhaji, Spanduk Bergambar Wali Kota Bekasi di Tenda Haji Viral: Salah Teknis atau Kebablasan Pencitraan?

×

Dicopot Wamenhaji, Spanduk Bergambar Wali Kota Bekasi di Tenda Haji Viral: Salah Teknis atau Kebablasan Pencitraan?

Sebarkan artikel ini
Dahnil Anzar Simanjuntak
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, terlihat meminta atribut bergambar kepala daerah itu diturunkan saat melakukan sidak di kawasan Kloter 19 JKS asal Kota Bekasi.

METROBEKASI.CO.ID – Video pencopotan spanduk bergambar Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, di area tenda jamaah haji Mina mendadak viral dan memantik perdebatan luas di media sosial.

Dalam video yang beredar, Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, terlihat meminta atribut bergambar kepala daerah itu diturunkan saat melakukan sidak di kawasan Kloter 19 JKS asal Kota Bekasi.

Example 300x600

Momen tersebut langsung menuai beragam komentar publik. Tidak sedikit warganet yang menyindir pemasangan foto kepala daerah di area ibadah sebagai bentuk pencitraan yang dianggap tidak tepat tempat. Bahkan ada yang menilai kultur pengagungan pejabat masih terbawa hingga ke Tanah Suci.

Namun di tengah derasnya kritik, Ketua Kloter 19 JKS kemudian memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa pemasangan spanduk dilakukan semata sebagai penanda visual agar jamaah asal Bekasi mudah mengenali posisi tenda di kawasan Mina yang sangat padat dan seragam.

BACA JUGA :  Ketua DPRD Bekasi Kritik Keras Kinerja Dinas BMSDA: Proyek Tanggul Medansatria Mandek Meski Dua Kali SPK Terbit

Menurutnya, pemasangan itu bukan untuk kepentingan politik maupun perlakuan istimewa terhadap wali kota yang juga tengah menjalankan ibadah haji bersama jamaah lainnya.

Penjelasan tersebut memang cukup masuk akal. Dalam operasional haji, penggunaan tanda pengenal tenda merupakan hal lazim, terutama untuk membantu jamaah lansia agar tidak tersesat. Banyak rombongan menggunakan nama daerah, warna tertentu, hingga simbol kelompok sebagai penanda lokasi.

Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika simbol yang dipasang menampilkan figur pejabat publik.

Di era media sosial seperti sekarang, masyarakat semakin sensitif terhadap segala hal yang berbau pencitraan, terlebih jika muncul di ruang ibadah yang seharusnya lebih menonjolkan kesederhanaan dan kesetaraan.

BACA JUGA :  RW 02 Kalibaru Pasang Spanduk Larangan Buang Sampah Liar

Karena itu, meski bisa jadi tidak ada niat politis di balik pemasangan spanduk tersebut, publik tetap melihatnya sebagai sesuatu yang kurang elok. Apalagi video yang beredar memperlihatkan pencopotan dilakukan langsung oleh pejabat kementerian di hadapan banyak orang.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pejabat publik saat ini berada dalam ruang pengawasan yang sangat terbuka. Hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa dalam kultur birokrasi kini bisa dengan cepat berubah menjadi kontroversi ketika masuk ke media sosial.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu bersikap proporsional. Sampai saat ini belum ada bukti bahwa pemasangan spanduk tersebut berkaitan dengan kampanye politik ataupun fasilitas khusus selama berhaji.

BACA JUGA :  Pemerintah Belum Memastikan Kenaikan Gaji ASN dan TNI/Polri

Klarifikasi dari pihak kloter menunjukkan bahwa persoalan ini lebih dekat pada kekeliruan dalam membaca sensitivitas publik dibanding upaya pencitraan yang disengaja.

Namun justru di situlah letak pelajarannya. Dalam momentum spiritual seperti ibadah haji, penggunaan simbol-simbol personal memang sebaiknya dihindari agar tidak menimbulkan tafsir yang melebar.

Ke depan, penanda tenda jamaah mungkin tetap diperlukan. Tetapi akan lebih bijak jika menggunakan identitas netral seperti nomor kloter, nama daerah, atau kode pelayanan tanpa menampilkan figur tertentu.

Sebab di Tanah Suci, yang semestinya ditonjolkan bukan siapa pejabatnya, melainkan bagaimana seluruh jamaah bisa beribadah dengan nyaman, tenang, dan setara.***