METROBEKASI.CO.ID – Isu dugaan praktik nepotisme dalam proses seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di SDN Pengasinan 2 menemukan titik terang baru. Kepala sekolah, Karju, ditengarai menyalahgunakan wewenang dan jabatannya untuk mengusulkan nama-nama calon pegawai.
Sebelumnya, nama Nur Bintang Gindayani, yang diketahui bukan pegawai di sekolah tersebut, diduga mendapat perlakuan istimewa. Belakangan terungkap dugaan bahwa salah satu kerabat dekat kepala sekolah juga masuk dalam daftar yang diloloskan.
“Bukan hanya Nur yang diloloskan, tetapi ada kerabat sangat dekat (anak) kepala sekolah,” ungkap sumber internal Metro Bekasi, yang enggan disebutkan namanya secara eksplisit, Selasa (25/11/2025).
Sumber tersebut merinci, ada sekitar lima nama yang berhasil masuk melalui jalur khusus. Ironisnya, seorang guru yang telah mengabdi selama enam tahun di sekolah itu justru tidak diikutsertakan dalam seleksi.
“Kasihan guru yang sudah enam tahun mengabdi malah diabaikan. Dia tidak lolos seleksi karena merasa tidak punya ‘orang dalam’,” tambah narasumber tersebut.
Pihak sekolah dan Karju sendiri tampak tertutup mengenai persoalan ini. Tim Metro Bekasi telah mencoba mengonfirmasi selama tiga hari kerja berturut-turut, namun para pengajar bersikap kompak bungkam dan terkesan menyembunyikan keberadaan kepala sekolah.
“Bapak lagi sakit. Tadi izin lewat grup WhatsApp,” kata salah seorang guru saat dimintai keterangan.
Dari informasi yang dihimpun, Karju diduga melanggar prosedur dengan menguntungkan kerabat dan koleganya, meskipun sebagian dari mereka belum memenuhi syarat wajib masa kerja minimal dua tahun untuk lolos seleksi PPPK. Kuatnya pengaruh Karju bahkan disebut memungkinkannya memberikan SK kepada individu yang secara administrasi tidak terdaftar atau tidak bekerja di SDN Pengasinan 2.***










