KOTA BEKASI — Pagi itu halaman Markas Komando Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bekasi terasa berbeda. Tidak ada sirene meraung. Tidak ada sepatu berlari tergesa. Tidak ada laporan kebakaran yang memaksa apel bubar di tengah jalan sesuatu yang justru sering terjadi di kantor yang akrab dengan kata “darurat”.
Yang hadir justru keheningan yang penuh rasa. Para petugas berdiri rapi. Helm digenggam. Selang air terparkir tenang.
Hari ini, Jumat 30 Januari 2026, bukan soal api yang harus dipadamkan, melainkan satu bab pengabdian yang resmi ditutup, purna tugas Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bekasi, Abi Hurairah.
“Pak Abi ini satu-satunya kadis yang kalau kebakaran malam, HP-nya lebih cepat nyala daripada sirene,” bisik seorang petugas senior ke rekannya.
“Iya, kadang kita baru pakai sepatu, beliau sudah di lokasi,” jawab yang lain, setengah bercanda, setengah hormat.
Dalam dunia birokrasi, pemimpin biasanya diukur dari berapa rapat yang dihadiri, bukan berapa titik api yang didatangi. Tapi Abi Hurairah seperti lupa rumus itu.
Ia dikenal jarang betah duduk lama di ruang kerja ber-AC. Baginya, laporan paling jujur bukan yang tercetak rapi, melainkan yang dilihat langsung di lapangan di tengah asap, teriakan warga, dan wajah petugas yang kelelahan.
Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe, dalam sambutannya, menyentil hal ini dengan nada halus namun tepat sasaran.
“Beliau ini pemimpin yang tidak hanya pandai memberi instruksi, tapi juga tahu persis bagaimana rasanya berdiri di tengah panas, bau asap, dan tekanan,” ujarnya.
Kalimat itu disambut anggukan serempak. Beberapa petugas saling pandang, seolah berkata: akhirnya ada yang bilang begini di podium resmi.
Di barisan belakang, seorang petugas muda berbisik lirih, “Kalau semua pejabat kayak Pak Abi, mungkin kebakaran cuma tinggal teori di kertas.” Temannya menahan tawa.
Di bawah kepemimpinan Abi, Disdamkarmat Kota Bekasi mencatat kemajuan signifikan: peningkatan kapasitas personel, perbaikan sistem respons, hingga prestasi kelembagaan. Tapi bagi para petugas, capaian terpenting bukan piagam atau laporan tahunan.
“Yang penting itu, kalau kita di lapangan, beliau percaya sama kita. Nggak banyak micromanage,” ujar seorang komandan regu.
Dalam dunia penyelamatan, kepercayaan sering kali lebih penting daripada anggaran.
Pidato Perpisahan dan Kalimat yang Tak Tercatat di Notulen
Saat tiba giliran Abi Hurairah berbicara, suasana berubah senyap. Ia tidak membawa catatan. Tidak membaca teks panjang. Tidak mengutip pasal atau target kinerja.
Ia bicara sebagai orang yang tahu betul betapa berat sepatu yang dipakai anak buahnya.
“Saya bangga bisa bekerja bersama kalian. Saya melihat langsung pengorbanan dan keberanian para petugas di lapangan,” ucapnya.
Ia berhenti sejenak. Menarik napas.
“Kalau selama ini ada keras-kerasnya saya, itu karena pekerjaan kita memang tidak boleh setengah-setengah,” tambahnya, disambut senyum kecil di antara barisan.
Seorang petugas senior berkomentar lirih, “Kalau Pak Abi marah, kita tahu itu bukan karena jabatan tapi karena keselamatan.”
Penyerahan tongkat komando dilakukan. Cendera mata berpindah tangan. Kamera mengambil gambar. Senyum diatur sebaik mungkin, meski mata tak selalu bisa diajak kompromi.
“Pak, sekarang nggak ada alasan lagi pulang subuh,” celetuk seorang anggota, mencoba mencairkan suasana.
Abi tertawa kecil. “Justru sekarang saya bisa datang tanpa disuruh.”
Tepuk tangan pun pecah. Hangat. Panjang. Bukan tepuk tangan seremonial, tapi tepuk tangan yang lahir dari rasa pernah berjalan bersama.
Apel purna tugas itu akhirnya usai. Barisan bubar. Helm kembali dikenakan. Rutinitas perlahan menyusul.
Namun pagi itu meninggalkan satu pesan sunyi di Markas Damkar Bekasi, di tengah birokrasi yang sering sibuk menjaga meja dan kursi, masih ada pemimpin yang memilih menjaga manusia.
Sirene mungkin berhenti meraung untuk Abi Hurairah. Tapi bagi para petugas, teladannya akan tetap berbunyi setiap kali alarm darurat kembali memanggil.***










