BANTAR GEBANG – Ada yang unik di RW 04 Kelurahan Ciketing Udik. Setiap bulan, warga tak hanya menimbang berat badan balita, tapi juga menimbang rasa bahagia. Ya, kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) rutin yang digagas oleh Ketua RW 04, Sarin Sunardi, bukan sekadar urusan bubur dan telur, tapi juga urusan hati terutama hati para ibu yang akhirnya punya alasan keluar rumah selain beli minyak goreng.
Program yang didukung CSR perusahaan setempat ini telah jadi agenda sosial paling ditunggu. Bayangkan, balita disuapi makanan bergizi, sementara ibunya disuapi kabar gembira, “Anak Ibu naik 2 ons!” momen langka yang lebih membahagiakan dari notifikasi gaji masuk.
“Balita itu aset masa depan,” kata Sarin Sunardi dengan nada tegas tapi penuh empati. “Makanya, sebelum jadi generasi gadget, pastikan dulu mereka kenyang dan sehat.”
Ucapan ini disambut tawa warga, terutama para bapak yang diam-diam juga berharap dapat jatah bubur kalau datang lebih pagi.
Namun yang paling menarik adalah tradisi “Wisuda Balita” sebuah momen ketika anak-anak yang sudah lewat usia lima tahun resmi “lulus” dari program PMT.
Mereka tak dapat ijazah, tapi dapat souvenir spesial seperti baju, celana, atau hadiah kecil lainnya.
“Supaya mereka ingat masa kecilnya dulu pernah antre bubur dengan bangga,” ujar Sarin sambil tersenyum.
Bagi sebagian orang, mungkin kegiatan ini tampak sederhana. Tapi di balik sendok kecil dan bubur hangat, tersimpan filosofi besar: bahwa membangun bangsa bisa dimulai dari posyandu, bukan podium.
Langkah kecil RW 04 ini jadi bukti bahwa kepemimpinan tak selalu harus berjas dan berdasi kadang cukup pakai celemek dan sendok plastik, asal niatnya tulus.
Semoga ke depan, makin banyak wilayah lain yang ikut “menyajikan masa depan” lewat semangkuk bubur dan secuil kepedulian.***










