METROBEKASI.CO.ID – Anggota Komisi 4 DPRD Kota Bekasi, Oloan Nababan, melaksanakan kegiatan reses guna menyerap aspirasi warga serta meninjau langsung berbagai permasalahan infrastruktur dan sosial di wilayah RW 022, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan usulan masyarakat mengenai perbaikan jalan, kelancaran saluran air, hingga dukungan terhadap kegiatan kepemudaan dapat terakomodasi dalam skema penganggaran pemerintah daerah mendatang.
Dalam diskusi bersama konstituen, Oloan menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam memfasilitasi kreativitas anak muda untuk meminimalisir perilaku negatif di lingkungan. Ia mengapresiasi semangat para pemuda yang menginginkan dukungan nyata agar aktivitas mereka lebih terarah dan produktif.
“Dukungan dari semua pihak sangat dibutuhkan bagi anak-anak muda. Dengan adanya kegiatan yang positif, tentunya hal ini dapat meminimalisir potensi nongkrong yang bersifat negatif,” ujar Oloan Nababan saat ditemui di lokasi reses, Senin (16/2/2026).
Terkait permasalahan banjir yang menjadi keluhan utama di daerah pemilihan (dapil) tersebut, Oloan menjelaskan bahwa penanganan genangan air di Rawalumbu sangat kompleks dan memerlukan solusi lintas batas wilayah.
Menurutnya, pembersihan saluran lokal tidak akan efektif jika terjadi penyempitan di wilayah hilir, termasuk area yang berbatasan dengan Kabupaten Bekasi.
“Permasalahan banjir ini sudah sangat kompleks. Jika hilirnya tersumbat atau terjadi penyempitan, pengerukan saluran di sini saja tidak akan menjadi jawaban tuntas. Diperlukan fasilitasi dari tingkat provinsi untuk sinkronisasi antar pemerintah daerah,” tegas legislator dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Sebagai langkah konkret, Oloan mendorong percepatan pembangunan kolam retensi atau polder di wilayah RW 04 Rawalumbu sebagai wadah parkir air sementara sebelum dialirkan ke hilir. Meski penetapan lokasi (penlock) sudah tersedia, ia mengakui bahwa proyek ini masih terkendala proses pembebasan lahan akibat prioritas anggaran yang teralihkan ke kebutuhan mendesak lainnya.
“Pembuatan polder sangat perlu untuk mengurangi debit air. Saat ini tahapannya baru sampai penetapan lokasi, selanjutnya kita dorong pembebasan lahan agar anggaran pelaksanaan bisa segera dihitung secara presisi oleh konsultan dan dinas teknis,” pungkas Oloan. (ADV)***










