Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner 970x250
METROPOLITANNASIONALPENDIDIKAN & KESEHATAN

LSK Tata Boga Jadi Garda Depan SDM Dapur MBG Nasional

×

LSK Tata Boga Jadi Garda Depan SDM Dapur MBG Nasional

Sebarkan artikel ini
Sejumlah jurus masakah saat mengikuti Uji Kompetensi LSK Tata Boga di salah satu SPPG wilayah Bogor, Minggu (25/1/2026) - foto doc

JAKARTA – Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya ditentukan oleh anggaran dan distribusi, tetapi sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia di dapur. Menyadari hal itu, Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Tata Boga tampil sebagai garda depan dalam menyiapkan juru masak profesional yang kompeten, tersertifikasi, dan siap mengelola dapur skala besar sesuai standar nasional.

Ratusan juru masak dari berbagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia kini mengikuti Uji Sertifikasi Kompetensi Juru Masak Jasa Usaha Makanan Level KKNI yang dibuka dan difasilitasi langsung oleh LSK Tata Boga. Langkah ini menjadi bukti konkret peran aktif LSK Tata Boga dalam menyukseskan program strategis nasional MBG.

Example 300x600

“LSK Tata Boga ingin memberi kontribusi nyata bagi negara dengan menyiapkan SDM dapur yang benar-benar kompeten. Program MBG tidak boleh dijalankan dengan SDM seadanya,” tegas Herna Diana, pengurus LSK Tata Boga.

BACA JUGA :  PPPK MBG Tak Berlaku untuk Semua, BGN Tuai Sorotan di Tengah Masifnya Rekrutmen SPPG

LSK Tata Boga: Referensi Nasional Kompetensi Kuliner

Sebagai lembaga profesional, LSK Tata Boga telah lama menjadi rujukan nasional dalam sertifikasi kompetensi bidang boga. Lembaga ini menaungi penguji-penguji ahli yang telah tersertifikasi dan berpengalaman panjang di dunia kuliner, pendidikan vokasi, dan industri jasa makanan.

Bidang sertifikasi yang ditangani LSK Tata Boga meliputi:

  • Jasa Usaha Makanan – Juru Masak
  • Pastry & Bakery
  • Kue Indonesia, Oriental, dan Kontinental
  • Roti, Dekorasi Kue, hingga Produk Bakery Modern

Kepercayaan tersebut membuat LSK Tata Boga menjadi mitra strategis berbagai Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) di seluruh Indonesia, serta kini dipercaya sebagai rujukan utama dalam penguatan SDM dapur MBG.

Sertifikasi = Jaminan Mutu dan Keamanan

Menurut Herna, sertifikasi kompetensi bukan sekadar pengakuan formal, tetapi jaminan mutu kerja dan tanggung jawab profesional.

BACA JUGA :  Wali Kota Bekasi Tinjau Dua Gereja di Pondok Melati, Tegaskan Komitmen Jaga Toleransi

“Pemegang sertifikat kompetensi itu kredibel. Negara, lembaga, dan masyarakat tahu bahwa makanan yang diolah benar-benar ditangani oleh tenaga yang paham standar gizi dan keamanan pangan,” ujarnya.

Dalam konteks MBG, juru masak tidak hanya dituntut bisa memasak, tetapi juga memahami manajemen bahan baku, higienitas, sanitasi dapur, dan mitigasi risiko pangan.

“Kalau tidak punya pengetahuan, juru masak tidak akan tahu makanan basi, terkontaminasi, atau berbahaya. Di dapur MBG, kesalahan kecil bisa berdampak besar,” tegas Herna.

Uji Kompetensi Ketat dan Terstandar

Pelaksanaan uji kompetensi LSK Tata Boga dilakukan secara objektif, terukur, dan berstandar KKNI. Salah satu pelaksanaan berlangsung di SPPG wilayah Bogor, Minggu (25/1), dengan pengawasan langsung penguji berpengalaman.

BACA JUGA :  Atasi Anak Susah Mengerti Pelajaran, Begini Metodenya

Peserta uji kompetensi menjalani beberapa tahapan:

  • pembekalan teori,
  • uji praktik memasak,
  • penilaian sikap kerja dan kedisiplinan,
  • manajemen waktu dan kebersihan dapur.

“Peserta tidak hanya dinilai dari rasa masakan, tetapi juga proses, perilaku kerja, dan tanggung jawab profesionalnya,” jelas Herna.

LSK Tata Boga, Pilar Penting MBG Berkelanjutan

Melalui sertifikasi ini, LSK Tata Boga menegaskan posisinya sebagai pilar penting dalam keberlanjutan program MBG. Dapur MBG bukan dapur biasa ia adalah dapur negara yang menyentuh kesehatan dan masa depan generasi bangsa.

Dengan pengalaman, jejaring nasional, serta standar sertifikasi yang ketat, LSK Tata Boga memastikan setiap juru masak MBG bekerja dengan kompetensi, etika, dan profesionalisme tinggi.

“Makanan bergizi harus diolah oleh tangan yang kompeten. Di situlah LSK Tata Boga hadir,” pungkas Herna.***