Ini adalah sebuah tamparan keras bagi para ketua RW yang selama ini bekerja dengan sukarela, mengorbankan waktu dan tenaga demi kemajuan lingkungan.
Pernyataan ini seakan mencederai kepercayaan publik terhadap pemimpinnya. Bukannya memberikan solusi atau penjelasan yang transparan, Wali Kota justru melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Apalagi, dengan melibatkan Kejaksaan dalam proses pencairan, kecurigaan itu semakin diperkuat.
Padahal, bukankah seharusnya pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada para ketua RW yang merupakan ujung tombak pemerintahan di tingkat paling bawah?
Ironi yang Menertawakan
Pada akhirnya, kisah ini menjadi ironi yang menertawakan. Janji kampanye yang begitu manis, kini menjadi mimpi buruk bagi para ketua RW. Anggaran yang seharusnya bisa menjadi alat untuk membangun, malah menjadi alat untuk mencurigai dan mengintervensi. Para ketua RW yang sudah terlanjur lelah dengan semua drama ini, mungkin hanya bisa berharap, suatu hari nanti, janji itu benar-benar terwujud dan kepercayaan itu kembali.
Sementara itu, kita bisa menyaksikan drama ini dengan sedikit senyum kecut. Betapa mudahnya janji politik diucapkan, dan betapa peliknya saat harus direalisasikan. Semoga saja, kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi para pemimpin di Bekasi, bahwa membangun kepercayaan rakyat jauh lebih penting dari sekadar janji-janji manis yang berujung pahit.***










