METRO BEKASI – Dinamika politik di internal Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi memanas setelah Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) resmi mencopot Ahmad Murodi dari jabatan Ketua Fraksi. Penggantinya adalah Alit Jamaludin, politisi yang dikenal berprofil rendah namun mendapat kepercayaan penuh dari pengurus DPC.
Pergantian kepemimpinan fraksi ini, meski dikemas dalam narasi “penyegaran organisasi”, santer dikaitkan dengan rekam jejak kontroversial Murodi, termasuk dugaan keterlibatan dalam kasus penggelapan mobil yang sempat mencuat ke publik.
Bukan Kejutan Biasa
Penunjukan Alit Jamaludin, yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPC PKB Kota Bekasi, sebetulnya bukan hal mengejutkan di mata internal partai. Sumber internal menyebutkan bahwa Alit sejak awal didapuk sebagai figur yang pantas memimpin fraksi. Namun, manuver politik tingkat tinggi yang dilancarkan Murodi, yang saat itu menjabat Bendahara DPC, berhasil mengamankan posisi ketua fraksi untuk dirinya sendiri di awal periode.
Kini, skenario politik tersebut berbalik arah. Pencopotan Murodi dinilai sudah terencana matang oleh elit partai sejak lama. PKB, sebagai partai dengan akar kuat di kalangan Nahdliyyin, memilih menyelesaikan persoalan internal dengan pendekatan arif dan bijaksana, menghindari konflik terbuka yang bisa merusak citra partai di mata publik.
“Penyegaran” dan Harmonisasi
Ketua DPC PKB Kota Bekasi, Rizki Topananda, mengonfirmasi perubahan struktur ini. Mengutip media lokal Bekasi, Rizki menjelaskan bahwa penetapan Alit Jamaludin sebagai ketua fraksi murni sebatas penyegaran organisasi.
“Penyegaran ini penting dilakukan demi mewujudkan cita-cita partai dan menjaga harmonisasi di tubuh fraksi serta DPC,” ujar Rizki. Ia juga memastikan keputusan ini telah melalui restu dan persetujuan dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB, menunjukkan soliditas keputusan dari level atas hingga bawah.
Manuver Politik dan Rekam Jejak Kontroversial
Di balik alasan penyegaran, isu mengenai perilaku Murodi menjadi sorotan utama. Berdasarkan sumber dari Metro Bekasi, Murodi dikenal sebagai politisi yang kurang bijaksana dalam berakselerasi dan menjaga kondusifitas internal partai.
Ia disebut kerap bermanuver menentang kebijakan DPC dan dinilai kurang komunikatif di internal fraksi saat menentukan arah kebijakan politik.
Selain persoalan etika politik internal, isu yang tidak kalah santer adalah perilaku Murodi di mata publik. Dia diduga terlibat dalam kasus penggelapan mobil, sebuah isu yang sempat ramai diberitakan beberapa media lokal. Persoalan-persoalan ini disinyalir menjadi akumulasi alasan bagi DPC PKB untuk mengambil langkah tegas mencopot jabatannya.
Dengan pergantian ini, DPC PKB Kota Bekasi berharap fraksi dapat berjalan lebih solid dan fokus pada kerja-kerja legislatif di bawah kepemimpinan baru Alit Jamaludin.***









