METROBEKASI.CO.ID – Di sebuah rumah kecil di kawasan Jamrud, Mustikajaya, Bekasi, seorang pria muda pernah memanggul kardus berisi lampu. Siang itu terik. Keringatnya bercucuran. Dari rumah ke rumah ia menawarkan jasa reparasi.
Tak banyak yang tahu, lelaki itu kelak akan duduk di lingkar kebijakan nasional, memimpin gerakan kemanusiaan, dan menjadi inspirasi banyak pemuda.
Namanya Lukmanul Hakim. Sebagian memanggilnya Pak Men. Teman-teman dekat menyapanya Lux.
Hari ini ia dikenal sebagai aktivis, penggerak filantropi, sekaligus pengusaha. Namun jalan menuju titik itu bukanlah jalan lurus. Ia panjang, terjal, dan penuh ujian.
Tumbuh dalam Keluarga Besar
Lukman adalah anak dari 16 bersaudara. Ia dibesarkan dalam keluarga besar yang sederhana namun sarat nilai. Di tengah banyaknya saudara, ia belajar tentang berbagi, mengalah, bertanggung jawab, dan menghargai proses.
Ia tumbuh di Cileungsi, Bogor, sebagai putra dari seorang tokoh agama, Ustadz Adjie Muslim, pengasuh Pondok Pesantren Al Fatah. Lingkungan pesantren membentuk fondasi hidupnya: disiplin, keteguhan, dan keberanian menghadapi keterbatasan.
Sejak kecil, ayahnya menanamkan satu prinsip: hidup harus dijalani dengan kesungguhan. Tidak ada ruang untuk bermalas-malasan. Tidak ada alasan untuk menyerah.
Namun masa mudanya tidak selalu penuh percaya diri. Ia pernah merasa canggung bergaul di luar lingkungan pesantren. Dunia luar terasa luas dan asing. Ia bukan sosok yang langsung bersinar.
Hingga akhirnya, ia melangkah ke bangku kuliah di STMIK Cipto Hadi Pranoto (kini STMIK Pranata Indonesia). Di sanalah dunia barunya benar-benar terbuka.
Kampus: Titik Balik Seorang Aktivis
Di kampus, Lukman memutuskan untuk keluar dari zona nyaman. Ia aktif dalam organisasi internal, belajar berbicara di depan umum, mengelola dinamika tim, dan memahami arti kepemimpinan.
Perjalanan organisasinya semakin kuat ketika ia bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di sinilah karakter aktivisnya terasah. Ia dipercaya menjadi Ketua Komisariat, lalu terus melangkah hingga masuk dalam jajaran Pengurus Besar (PB PMII).
Bagi Lukman, organisasi bukan sekadar jabatan. Ia adalah ruang pengabdian. Ruang belajar. Ruang menempa mental.
Tak heran jika namanya dikenal sebagai sosok ulet dan konsisten. Rekan-rekannya melihat satu hal yang sama: ia tidak pernah setengah hati dalam berjuang.
Pahit yang Membentuk Ketangguhan
Namun idealisme tak selalu sejalan dengan kondisi ekonomi. Lukman dan istrinya pernah hidup mengontrak sederhana. Ada masa ketika penghasilan tak menentu. Ia berjualan lampu dan membuka jasa reparasi, bukan hanya di Jamrud, Mustikajaya, Bekasi, tetapi juga berkeliling menjajakan lampu di sekitar Pondok Pesantren Al Fatah.
Siang hari berdiskusi tentang gerakan mahasiswa. Malam hari mengetuk pintu warga menawarkan lampu. Itu bukan kontradiksi. Itu konsistensi.
Ia percaya, tidak ada pekerjaan yang hina selama halal dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dari sanalah mental baja itu terbentuk.
Membangun Gerakan Kemanusiaan
Pengalaman organisasi dan jiwa sosialnya melahirkan langkah besar berikutnya. Bersama sang adik, Husein, ia mendirikan International Networking for Humanitarian (INH).
INH berkembang menjadi lembaga kemanusiaan yang diperhitungkan di tingkat nasional dan internasional. Gerakannya menjangkau berbagai sektor sosial dan bantuan kemanusiaan lintas wilayah.
Tak hanya itu, Lukman juga dikenal sebagai owner Belaskasih.com, platform kemanusiaan berbasis digital yang mempertemukan para dermawan dengan mereka yang membutuhkan. Inovasi ini memperlihatkan kemampuannya memadukan gerakan sosial dengan teknologi.
Banyak artikel memuat kiprahnya. Namun bagi Lukman, yang terpenting bukan sorotan media, melainkan kebermanfaatan nyata.
Dari Lorong Pesantren ke Ruang Kebijakan
Perjalanannya membawanya dipercaya menjadi Tenaga Ahli Menteri Ketenagakerjaan, atas rekomendasi Wakil Menteri Imanuel Ebenezer.
Dari lorong pesantren dan gang kecil tempat ia menjajakan lampu, kini ia hadir di ruang-ruang strategis pemerintahan.
Namun jabatan tak pernah mengubah sikapnya. Ia tetap sederhana, tetap mudah dijangkau, tetap bersahabat.
Pengusaha dan Ayah Enam Anak
Kini Lukman juga menjadi pemilik rumah makan di wilayah Beji, Depok bernama Pawon Joglo Mbah Srini. Dunia bisnis ia jalani dengan inovasi dan keberanian mengambil risiko, belajar dari jatuh bangun masa lalu.
Sebagai ayah dari enam anak, ia memikul tanggung jawab besar. Ia ingin anak-anaknya tumbuh dengan nilai yang sama seperti yang ia pelajari sejak kecil: disiplin, kerja keras, dan kepedulian.
Cahaya yang Tak Pernah Padam
Kisah Lukmanul Hakim adalah kisah tentang daya tahan. Tentang bagaimana seorang anak dari 16 bersaudara yang pernah merasa minder, pernah berjualan lampu keliling, mampu berdiri di panggung nasional.
Dari tukang lampu hingga penggerak kemanusiaan.
Dari kontrakan sederhana hingga lingkar kebijakan.
Ia membuktikan satu hal:
Bukan siapa yang lahir paling kuat yang akan bertahan.
Tapi siapa yang terus bangkit setiap kali dijatuhkan keadaan.
Dan mungkin, karena pernah hidup dalam gelapnya keterbatasan, ia tahu persis bagaimana menyalakan cahaya bagi banyak orang.***










