METROBEKASI.CO.ID – Kunjungan kerja (Kunker) Wali Kota Bekasi Tri Adhianto beserta jajaran Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkimtan) ke Tiongkok baru-baru ini menghasilkan sejumlah gagasan strategis. Fokus penjajakan kerja sama dengan Jinluo Water Co., Ltd. adalah mengadopsi teknologi ramah lingkungan dan efisien untuk pengelolaan air dan limbah.
Alih-alih sekadar laporan perjalanan dinas, kunjungan ini seharusnya menjadi momentum refleksi kritis terhadap tantangan lingkungan perkotaan Bekasi yang kian kompleks.
Ambisi Konversi Sampah Menjadi Energi: Realistis atau Ilusi?
Salah satu poin utama yang dibawa pulang adalah optimalisasi pengelolaan sampah dalam skala masif. Wali Kota menyebut rencana ambisius untuk memusnahkan 1.400 ton sampah per hari dan mengkonversinya menjadi energi listrik.
Target ini patut diapresiasi, mengingat volume sampah Kota Bekasi yang terus menggunung. Namun, publik perlu memastikan bahwa “teknologi modern” yang akan diterapkan benar-benar efisien, ramah lingkungan, dan telah teruji di Indonesia. Pengalaman banyak daerah di Indonesia menunjukkan bahwa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) seringkali terbentur masalah regulasi, biaya tinggi, dan penolakan masyarakat akibat kekhawatiran polusi.
Pemerintah Kota Bekasi wajib mengedukasi masyarakat secara transparan mengenai dampak lingkungan dari teknologi insinerasi (pembakaran) skala besar ini, memastikan solusi yang ditawarkan tidak menciptakan masalah polusi baru di kemudian hari.
Sanitasi Dasar Selesai, Limbah Cair Justru Kritis
Wali Kota mengklaim Bekasi telah mencapai capaian penting dalam sanitasi dasar, yakni tuntasnya program Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan. Praktik “jamban helikopter” disebut telah lenyap.
Klaim ODF memang capaian administratif yang baik. Namun, artikel ini menyoroti tantangan yang lebih substansial: pengelolaan limbah cair dan air lindi (cairan kotor dari tumpukan sampah). Pertumbuhan penduduk dan industri di Bekasi menuntut solusi pengelolaan limbah terstruktur, bukan sekadar “tidak BAB sembarangan”.
Model percontohan tabungan penyedotan WC di RW Margahayu adalah inisiatif mikro yang cerdas dan patut didorong. Namun, skala masalah limbah di Bekasi jauh lebih besar. Faktanya, masih banyak kawasan industri dan fasilitas umum yang abai terhadap sistem pengolahan tinja yang benar.
Di sinilah peran hasil pembelajaran dari Tiongkok harus diaplikasikan secara konkret. Teknologi pengolahan air lindi dan limbah tinja modern wajib diimplementasikan, bukan hanya sebagai studi banding di atas kertas.
Dari Kunker ke Aksi Nyata Berkelanjutan
Kunjungan kerja ke luar negeri idealnya menjadi katalisator perubahan nyata. Edukasi bagi masyarakat dan pelaku industri sangat diperlukan. Pemkot Bekasi tidak bisa hanya mengandalkan klaim ODF atau rencana ambisius PLTSa.
Penerapan teknologi pengolahan lingkungan berbasis modern Tiongkok harus diterjemahkan ke dalam regulasi yang mengikat, pengawasan ketat terhadap industri, dan partisipasi publik yang terinformasi. Harapannya, kunjungan ini benar-benar menjadi langkah awal penguatan pengelolaan lingkungan berkelanjutan, bukan sekadar agenda seremonial yang minim implementasi konkret di lapangan.***










