Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner 970x250
METROPOLITAN

Bekasi Terendam, Pompa Kepanasan: Banjir, DAS, dan Tata Ruang Ujian Nyata

×

Bekasi Terendam, Pompa Kepanasan: Banjir, DAS, dan Tata Ruang Ujian Nyata

Sebarkan artikel ini
Banjir kembali kepung Kota Bekasi, pada Kamis 29 Januari 2025. BPBD melakukan evakuasi warga yang terjebak di pemukiman. foto doc

KOTA BEKASI — Hujan berintensitas tinggi sejak dini hari kembali menempatkan Kota Bekasi pada rutinitas tahunan yang nyaris ritual, banjir meluas, pompa bekerja ekstra, dan tata ruang dipertanyakan. Sedikitnya 7 kecamatan dengan 15 titik dilaporkan terendam, dengan tinggi muka air bervariasi mulai dari 10 sentimeter hingga 150 sentimeter.

Di tengah kondisi tersebut, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan bahwa warga yang tinggal dan mendirikan bangunan di Daerah Aliran Sungai (DAS) seharusnya tidak lagi bertahan.

Example 300x600

“Kalau memang itu daerah aliran sungai, seharusnya warga sudah pindah. Apalagi jika tanahnya bukan milik mereka, melainkan milik Perusahaan Jasa Tirta,” ujar Tri, Kamis (29/1/2026).

Pernyataan ini menegaskan sikap pemerintah, sekaligus membuka ironi lama: permukiman tumbuh di bantaran sungai selama bertahun-tahun, namun diminta pergi saat air sudah setinggi dada.

BACA JUGA :  Safari Ramadan IKA PMII Bekasi: Konsolidasi Alumni, Energi Baru untuk Kota!

Tri menyebut Pemkot Bekasi tengah menyiapkan proyek pembangunan tanggul sebagai upaya pengendalian banjir. Namun, pelaksanaannya kembali tersendat pada masalah klasik: pembebasan lahan dan kerelaan warga.

“Wilayah Mawar memang harus dibuat tanggul agar ada pembatas yang melindungi warga. Tapi itu membutuhkan pembebasan lahan dan kesediaan warga yang masih tinggal di bantaran,” tambahnya.

Selain itu, Pemkot Bekasi juga merencanakan penertiban bangunan liar di bantaran sungai. Tercatat sekitar 72 bangunan di kawasan Lotte Mart akan ditertibkan dalam waktu dekat langkah yang diharapkan mampu mengurangi risiko banjir, meski datang setelah genangan telanjur meluas.

Di tengah upaya pengendalian banjir, insiden terjadi di Polder Kalimati, Kecamatan Rawalumbu. Salah satu pipa pompa air terbakar saat Wali Kota Bekasi melakukan peninjauan lokasi, Kamis pagi.

Kebakaran terjadi ketika sistem pompa tengah beroperasi penuh untuk mengurangi genangan. Petugas bergerak cepat memadamkan api menggunakan APAR, sehingga kebakaran tidak meluas dan tidak menimbulkan korban.

BACA JUGA :  Wajah Baru Timezone Mall Ciputra Cibubur: Hadirkan Social Bowling dan Promo Double Tizo untuk Keluarga Bekasi

Dalam rekaman di lokasi, Tri terlihat keluar dari ruang pompa dan mengingatkan petugas agar tetap berhati-hati. Informasi awal menyebutkan, kebakaran diduga dipicu beban kerja pompa yang berlebihan, mengingat sejak malam sebelumnya pompa terus dipaksa bekerja tanpa jeda.

Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi terkait dampak insiden terhadap operasional pompa maupun estimasi kerusakan. Petugas masih melakukan pengecekan lanjutan.

Polder Kalimati sendiri merupakan salah satu infrastruktur vital pengendali banjir di Kota Bekasi—dan insiden ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur yang kelelahan tak bisa terus dipaksa menutup lubang kebijakan.

BPBD Kota Bekasi melaporkan genangan merata di sejumlah wilayah, mulai dari Pondok Gede, Rawalumbu, Jati Asih, Bekasi Barat, Bekasi Utara, hingga Bekasi Timur.

BACA JUGA :  Trans Beken Didukung Mantan Ketua Organda, Angkot Kehilangan Dalih

Beberapa titik terdampak parah antara lain:

  • Teluk Pucung, Bekasi Utara: TMA 30–150 cm, warga dievakuasi ke musala dan lokasi pengungsian
  • Jatibening Permai, Pondok Gede: TMA meningkat hingga 80 cm
  • Mas Naga dan Puri Bintara, Bekasi Barat: TMA 60–70 cm
  • Jati Kramat, Jati Asih: TMA hingga 70 cm

BPBD mengerahkan empat tim lapangan untuk pemantauan dan evakuasi. Total 10 warga telah dievakuasi, terdiri dari anak-anak hingga lansia.

BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada, menghindari area genangan, serta segera melapor jika terjadi kondisi darurat.

Di Kota Bekasi, hujan memang fenomena alam. Namun banjir yang berulang lengkap dengan pompa yang ikut “kepanasan” adalah cermin panjangnya persoalan tata ruang dan pengendalian banjir yang belum sepenuhnya dituntaskan.***