METROBEKASI.CO.ID – Musim hujan kembali menjadi ujian berat bagi warga Jabodetabek. Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah hulu dan hilir sejak beberapa hari terakhir menyebabkan sungai-sungai meluap dan genangan air merendam permukiman warga. Kota Bekasi kembali masuk dalam daftar daerah terdampak paling parah, bersama Jakarta dan Bogor.
Di tengah kondisi darurat tersebut, Lembaga Kemanusiaan International Networking for Humanitarian (INH) bergerak cepat menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak banjir di sejumlah titik rawan. Bantuan yang disalurkan berupa mie instan, telur ayam, air mineral, serta kebutuhan pokok lainnya, yang sangat dibutuhkan warga di masa-masa awal pascabanjir.
Bekasi Kembali Jadi Langganan Banjir
Di Kota Bekasi, bantuan INH disalurkan ke berbagai wilayah yang kerap menjadi titik genangan dan luapan air, di antaranya Bekasi Timur, Bekasi Selatan, Bekasi Utara, Rawalumbu, dan Jatiasih. Banjir dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang berlangsung berjam-jam, ditambah buruknya daya tampung drainase dan meluapnya aliran sungai.
Air merendam permukiman warga dengan ketinggian bervariasi, mulai dari mata kaki hingga lutut orang dewasa. Aktivitas warga lumpuh, sebagian terpaksa mengungsi, sementara yang bertahan di rumah harus berjuang dengan keterbatasan logistik dan air bersih.
Kondisi serupa juga terjadi di wilayah lain di Jabodetabek, seperti Jakarta dan Bogor, yang turut terdampak akibat kiriman air dari wilayah hulu dan hujan lokal dengan intensitas tinggi.
INH Hadir di Tengah Darurat Kemanusiaan
Aktivis Kemanusiaan INH, Ahmad Tasori, menyampaikan bahwa Jabodetabek memang menjadi kawasan yang sangat rawan banjir setiap musim penghujan. Menurutnya, situasi ini menuntut respons cepat dan kepedulian kolektif dari berbagai elemen masyarakat.
“Kota Bekasi dan wilayah Jabodetabek lainnya bisa dikatakan daerah langganan banjir. Setiap musim hujan, warga kembali diuji dengan musibah yang sama. Kami berharap masyarakat diberi kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini,” ujar Ahmad Tasori.
Ia menegaskan, kehadiran INH di berbagai lokasi terdampak bukan sekadar aksi simbolis, melainkan bentuk komitmen kemanusiaan untuk selalu hadir di saat masyarakat berada dalam kondisi paling rentan.
Solidaritas Jadi Kunci Pemulihan
Selain menyalurkan bantuan logistik, INH juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat solidaritas dan semangat gotong royong. Menurut INH, bencana banjir tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, relawan, lembaga kemanusiaan, dan pemerintah.
Dukungan tidak hanya berupa bantuan barang, tetapi juga tenaga, kepedulian, dan doa, agar para korban dapat segera bangkit dan kehidupan di wilayah terdampak perlahan pulih kembali.
Di tengah genangan air dan keterbatasan, kehadiran bantuan menjadi secercah harapan. Banjir mungkin kembali datang, tetapi kepedulian dan kemanusiaan tidak boleh ikut tenggelam.***










