METROBEKASI.CO.ID – Musim yang awalnya menjanjikan telah berubah menjadi mimpi buruk bagi Liverpool. Setelah mengawali musim 2025/2026 dengan lima kemenangan beruntun, sang juara bertahan kini terpuruk dalam krisis.
Kekalahan 3-2 dari Brentford di Liga Inggris, Sabtu kemarin, adalah kekalahan liga keempat berturut-turut, yang menempatkan mereka di posisi keenam klasemen. Hasil ini meruntuhkan harapan para penggemar usai menang besar 5-1 di Liga Champions melawan Eintracht Frankfurt pekan lalu.
Sebelum rentetan hasil buruk ini, performa Liverpool di bawah asuhan pelatih kepala Arne Slot sangat menjanjikan. Mereka mengawali musim dengan lima kemenangan beruntun, termasuk kemenangan 4-2 atas AFC Bournemouth dan kemenangan kandang 1-0 atas rivalnya, Arsenal. Namun, setelah periode tersebut, performa mereka menurun drastis. Kekalahan pertama datang dari Crystal Palace dengan skor 2-1 pada 27 September.
Setelah itu, mereka kalah dari Galatasaray di Liga Champions dengan skor 1-0. Rentetan kekalahan ini diperburuk dengan kekalahan 2-1 di kandang Chelsea pada 4 Oktober dan kekalahan 2-1 di kandang dari Manchester United.
Banyak pihak menilai masalah Liverpool lebih dari sekadar cedera pemain, melainkan juga hilangnya kohesi. Analisis dari BBC Sport menunjukkan bahwa meskipun skuad musim lalu sukses secara taktik, investasi besar di musim panas lalu sebesar £450 juta untuk mendatangkan pemain baru justru merusak kekompakan tim, membuat para pemain andalan tampil di bawah performa, dan para pemain baru kesulitan menyatu.
Ditambah lagi, lini belakang menjadi titik terlemah mereka, terlalu mudah ditembus dan rentan, terutama dalam situasi bola mati.
Brentford, yang tampil lebih agresif dan terorganisir, berhasil mengeksploitasi kelemahan Liverpool. Gol cepat Dango Ouattara dari lemparan ke dalam pada menit kelima sudah memberi sinyal buruk bagi The Reds.
Sekalipun sempat membalas, lini pertahanan yang terbuka lebar membuat Kevin Schade dan Igor Thiago berhasil menambah gol bagi Brentford. Gol spektakuler Mohamed Salah di akhir pertandingan tidak cukup untuk menyelamatkan timnya.
Setelah mengantarkan Liverpool menjadi juara Premier League di musim perdananya, Slot kini menghadapi tantangan terbesarnya. Peringkat keenam di klasemen, enam poin di bawah pemimpin klasemen Arsenal, membuat upaya mempertahankan gelar semakin berat. Jika tidak, bukan hanya gelar yang melayang, tetapi posisi mereka di empat besar pun bisa terancam.
Meskipun dalam posisi sulit, Liverpool masih memiliki pemain-pemain berkualitas dan kedalaman skuad yang mumpuni. Namun, Slot perlu bertindak cepat dengan melakukan evaluasi taktik, dan mungkin melakukan perombakan skuad dalam bursa transfer Januari untuk memperkuat area-area yang rentan, seperti lini tengah atau pertahanan.
Yang paling penting, ia harus mengembalikan kepercayaan diri tim, karena hasil buruk empat kali berturut-turut bisa mengikis mental para pemain. Para penggemar Liverpool kini menanti keajaiban dan berharap badai yang menerpa Anfield segera berakhir.***










