JAKATA – Indonesia memasuki pekan-pekan terakhir tahun 2025 dengan rapor ekonomi yang penuh warna. Di tengah hiruk-pikuk persiapan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), masyarakat Indonesia kini sedang diuji oleh pergerakan harga pangan yang merangkak naik serta volatilitas pasar saham yang membuat para investor menahan napas.
Ancaman “Inflasi Piring Makan”
Menjelang puncak perayaan akhir tahun, perhatian utama masyarakat tertuju pada pasar tradisional dan supermarket. Isu kenaikan pengeluaran makanan menjadi topik paling hangat di media sosial. Berdasarkan tren data Desember ini, harga beberapa komoditas pokok mulai menunjukkan tren “hijau” alias naik, dipicu oleh tingginya permintaan domestik dan kendala distribusi akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah Sumatra dan Jawa.
Bagi banyak keluarga, kenaikan harga pangan ini menjadi tantangan nyata di tengah rencana liburan. Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas pasokan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) guna memastikan stok pangan tetap aman hingga awal 2026.
IHSG: Menanti Keajaiban Santa Claus Rally
Di lantai bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pagi ini, 16 Desember 2025, dengan bayang-bayang pelemahan. Para analis memprediksi pasar masih cenderung terkoreksi mengikuti sentimen global dan aksi ambil untung (profit taking) menjelang tutup tahun.
Meskipun demikian, harapan akan munculnya Santa Claus Rally fenomena di mana harga saham cenderung naik di akhir Desember masih membayangi benak para pelaku pasar. Sektor perbankan diprediksi akan menjadi motor penggerak, terutama dengan sorotan pada perayaan HUT ke-130 Bank Rakyat Indonesia (BRI) hari ini yang membawa optimisme terhadap ketahanan industri keuangan nasional.
Efek Domino Libur Nataru
Ekonomi Indonesia di akhir 2025 juga sangat bergantung pada mobilitas 119,5 juta orang yang diprediksi akan bepergian. Perputaran uang di sektor pariwisata, transportasi, dan retail diperkirakan akan menyentuh angka triliunan rupiah.
Namun, mobilitas besar ini membawa konsekuensi ekonomi lain: tekanan pada sektor energi. Pemerintah telah menyiagakan Posko Nasional Sektor ESDM untuk memastikan pasokan BBM dan listrik tidak terganggu, yang jika bermasalah, dapat memicu kenaikan biaya logistik secara mendadak.
Apa yang Harus Disiapkan?
Menghadapi situasi ekonomi di sisa tahun 2025 ini, para pakar keuangan menyarankan masyarakat untuk:
- Evaluasi Anggaran Liburan: Pastikan kenaikan harga pangan tidak mengganggu dana darurat Anda.
- Cermati Investasi: Bagi investor, periode volatilitas ini bisa menjadi kesempatan untuk melakukan rebalancing portofolio sebelum memasuki tahun fiskal 2026.
- Waspadai Cuaca: Mengingat cuaca ekstrem sedang melanda, gangguan logistik dapat terjadi sewaktu-waktu yang berdampak pada harga barang di daerah tertentu.
Indonesia mungkin sedang menghadapi “badai” kecil di penghujung tahun, namun dengan fundamental ekonomi yang tetap terjaga dan konsumsi domestik yang kuat, harapan untuk menutup tahun 2025 dengan catatan positif masih terbuka lebar.***










