METRO BEKASI.CO.ID – Belum lama ini, dunia pesantren dan publik dikejutkan dengan tayangan di sebuah program televisi swasta, Trans7, yang menyoroti kehidupan kiai dan pesantren.
Alih-alih menyajikan realitas secara utuh dan berimbang, tayangan tersebut justru menggunakan teknik framing yang menyudutkan, menggeneralisasi, dan terkesan merendahkan.
Dengan menggabungkan potongan-potongan video viral tanpa konteks yang jelas, program tersebut menggiring opini publik pada stereotip negatif.
Reaksi keras muncul dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh ulama seperti Nadirsyah Hosen, anggota DPR, hingga ribuan santri yang turun ke jalan menuntut klarifikasi dan sanksi tegas.
Kecaman ini bukan tanpa alasan. Framing yang dilakukan Trans7 telah melukai perasaan kaum santri dan merusak citra pesantren sebagai institusi pendidikan yang mulia.
Tayangan Trans7 dianggap menggunakan tiga taktik framing yang manipulatif:
Membongkar Manipulasi Framing Media
Generalisasi yang Menyesatkan:
Tayangan tersebut menyajikan narasi bahwa kekayaan kiai dan praktik santri yang membantu pekerjaan rumah tangga adalah cerminan dari seluruh pesantren di Indonesia.
Padahal, kasus semacam itu hanyalah segelintir dan tidak mewakili ribuan pesantren yang berkontribusi besar bagi bangsa.
Mengadu-domba Emosi dengan Logika:
Program tersebut memicu emosi publik dengan menyandingkan video santri yang membantu pekerjaan rumah tangga kiai dengan narasi yang mengesankan adanya eksploitasi.
Padahal, bagi banyak santri, membantu kiai adalah bentuk penghormatan dan pengabdian yang tulus, sebuah dimensi transendental yang tak terjangkau oleh logika sekuler.
Memutarbalikkan Fakta:
Tayangan tersebut mengabaikan fakta sejarah dan peran besar pesantren dalam mendidik generasi muda, menjaga tradisi keilmuan, dan mempertahankan nilai-nilai kebangsaan.
Pesantren telah menjadi benteng moral dan intelektual sejak masa penjajahan, jauh sebelum media modern lahir.
Relasi Batin Kiai dan Santri
Salah satu elemen yang gagal dipahami oleh tayangan Trans7 adalah relasi batin antara kiai dan santri.
Hubungan ini bukanlah sekadar hubungan guru dan murid biasa, melainkan ikatan yang dilandasi cinta, penghormatan, dan spiritualitas.
Mengabdi kepada kiai, seperti yang terlihat dalam video, adalah praktik khidmat yang bertujuan mencari berkah (tabarruk) dan mempererat ikatan spiritual.
Memahami dinamika ini memerlukan sudut pandang yang berbeda, bukan sekadar melihatnya dari kacamata materialistik atau feodalisme seperti yang dituduhkan.
Media seharusnya bisa menggali esensi ini, bukan hanya permukaan yang sensasional.
Refleksi untuk Media dan Publik
Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi media massa dan publik secara umum:
Tanggung Jawab Media:
Media memiliki tanggung jawab besar dalam menyajikan informasi secara akurat, berimbang, dan tidak manipulatif.
Khususnya ketika berhadapan dengan isu sensitif seperti agama dan budaya, riset yang mendalam dan pendekatan yang arif sangat diperlukan.
Dewan Pers dan KPI perlu mengambil tindakan tegas agar kejadian serupa tidak terulang.
Literasi Publik:
Publik harus lebih cerdas dalam menyaring informasi, tidak mudah terpancing oleh framing yang menggiring opini.
Penting untuk melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang dan tidak menelan mentah-mentah narasi yang merugikan suatu kelompok.
Pesantren sebagai Subjek, Bukan Objek:
Sudah saatnya media berhenti menjadikan pesantren sebagai objek eksploitasi narasi sensasional.
Pesantren adalah subjek yang aktif, yang kini dituntut untuk menjadi pemain media sendiri guna melawan narasi negatif dengan konten yang positif dan akurat.
Sebagai penutup, tindakan Trans7 telah melukai kaum santri dan merendahkan martabat pesantren.
Namun, perlawanan yang muncul menunjukkan bahwa pesantren dan kiai tidak bisa diam begitu saja ketika kehormatan mereka direndahkan.
Ini adalah pengingat bahwa institusi pendidikan ini tetap kokoh berdiri, meskipun terus dihantam oleh disinformasi.
Penulis : Ifi Fataranifa (Alumni Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor)










