KOTA BEKASI — Puluhan aktivis, mahasiswa, dan massa aksi dari Aliansi Rakyat Miskin Kota (ARMK) kembali berdiri tegak menantang panas, debu, dan ketidakjelasan hukum, menuntut satu hal sederhana yang tampaknya paling sulit diwujudkan di negeri ini transparansi dan keadilan, Kamis 9 Oktober 2025.
“Ini bukan aksi dadakan. Ini Jilid 3, karena jaksa-jaksa di sini kayaknya baru bisa kerja kalau dipanggil tiga kali,” kata Hasan Basri, aktivis muda Bekasi yang vokalnya bisa menandingi toa masjid subuh.
Koordinator Lapangan Juhartono menegaskan bahwa Kejaksaan Negeri Bekasi harus segera bergerak menindaklanjuti penyelidikan kasus-kasus korupsi yang sudah lama mandek.
“Jangan sampai publik mengira jaksa itu bagian dari koleksi patung di depan kantor. Kami minta mereka kerja nyata, bukan kerja pura-pura,” ujarnya tajam.
ARMK juga menuntut agar Kejari transparan dalam menangani dugaan korupsi, dari yang kecil sampai yang jumbo.
“Jangan ada yang ditutup-tutupi, kecuali wajah saat malu karena kinerjanya buruk,” lanjut Juhartono.
Selain menyoroti lambannya penanganan kasus, massa aksi juga menyerukan pembebasan dua aktivis Wawan Hermawan dan Syahdan Husein yang hingga kini masih ditahan.
“Mereka bukan kriminal, mereka hanya terlalu jujur di tengah kota yang alergi pada kejujuran,” tegas Juhartono, disambut sorak dukungan.
Orator lain, Muhammad Ifsudar, menyoroti berbagai dugaan korupsi yang masih menggantung di langit Bekasi, mulai dari proyek alat olahraga yang entah di mana wujudnya, dana hibah KONI yang raib seperti uang THR staf outsourcing, hingga anggaran rumah dinas yang lebih cocok disebut rumah pribadi tapi dibiayai rakyat.
“Kejaksaan ini jalannya kayak kura-kura dikasih beban batu bata. Lemot luar biasa. Kalau bukan rakyat yang dorong, mungkin kasus-kasus ini baru selesai setelah pemilihan wali kota ke-10 berikutnya,” sindir Ifsudar dengan tawa getir.
Sorotan tajam juga diarahkan ke dugaan penggunaan rumah dinas wali kota yang konon lebih sibuk dipakai selfie daripada jadi tempat kerja.
“Kami minta laporan terbuka. Jangan biarkan transparansi cuma jadi kata mutiara di spanduk, bukan kenyataan di lapangan,” tegasnya.
“Kami haus keadilan, tapi jangan kasih kami air janji. Kami akan terus berdiri, bersuara, dan berjuang sampai hukum berpihak pada rakyat, bukan pada rekanan proyek!” tambah Rifky, salah satu aktivis muda ARMK, menutup aksi dengan orasi penuh semangat.
Aksi Kamisan Jilid 3 pun berakhir dengan tertib, tanpa kekerasan meski banyak yang berharap, andai semangat massa ini bisa ditulari ke lembaga hukum, mungkin korupsi sudah tinggal cerita.***










