KOTA BEKASI – Kepala UPTD Pasar Kranji, Agus Sudrajat, buka suara menepis tudingan bahwa petugas pasar “angin-anginan” dalam urusan kebersihan. Menurutnya, bukan mereka yang malas, tapi truknya yang lelah dan TPA-nya yang longsor.
“Bukan kami yang berhenti kerja, tapi armadanya yang mogok dan akses ke TPA Sumur Batu ketutup longsoran. Biasanya tiga truk bisa ngangkut, sekarang tinggal dua. Satu lagi entah masih di TKP atau nyari sinyal,” ujar Agus dengan nada setengah pasrah, Rabu (8/10/2025).
Agus menegaskan, gosip bahwa tenaga kebersihan cuma tiga orang itu salah besar. “Kru kami ada sepuluh orang, bukan tiga. Cuma ya, kalau truknya ga bisa jalan, mau sepuluh juga ya cuma bisa nyapu doa,” ujarnya.
Tumpukan sampah yang viral di Pasar Kranji, katanya, juga bukan murni sampah pedagang. Banyak warga “numpang buang” karena mengira itu tempat wisata aroma tajam.
“TPS Bintara itu bukan cuma sampah pasar, tapi juga hasil ‘titisan tangan warga lewat’. Lihat tumpukan, langsung refleks buang aja. Mungkin dikira kompetisi siapa paling cepat lempar plastik,” katanya dengan senyum getir.
Sementara itu, sejak 1 Oktober 2025, pengelolaan sampah pasar sudah diambil alih PT ABB, bukan lagi UPTD Pasar Kranji. Jadi kalau ada yang marah-marah ke petugas pasar, Agus minta sabar dulu.
“Kami tetap bantu ngawasin, tapi yang operasional sekarang PT ABB. Jadi kalau mau komplain, ya bagi dua aja marahnya, biar adil,” ucapnya setengah bercanda.
Di sisi lain, Kepala UPTD TPA Sumur Batu, Toni Kurniadi, mengonfirmasi bahwa memang terjadi longsor di area aktif pembuangan. Gara-gara hujan yang mengguyur seminggu penuh, gundukan sampah seolah punya ide sendiri: bergerak tanpa perintah.
“Pergerakan tanahnya lumayan. Faktor hujan dan alat berat di atas gundukan bikin struktur jadi labil. Ya, bisa dibilang alam ikut protes,” jelas Toni.
Meski begitu, Toni memastikan zona lain aman. Saat ini, tim gabungan tengah bersih-bersih lumpur dan material longsor. DBMSDA pun sudah turun tangan melakukan survei untuk membangun dinding penahan, agar gunung sampah tidak berubah jadi air terjun dadakan.
“Begitu pembersihan selesai, pengangkutan akan normal lagi. Sekarang sabar dulu, yang penting truknya jangan ikut ngambek,” imbuhnya.
Pemerintah Kota Bekasi sendiri menyerukan agar masyarakat tidak panik dan tidak menambah tumpukan, terutama dengan cara kreatif seperti melempar sampah dari motor.
“Semua pihak sedang bekerja dari petugas pasar, UPTD LH, sampai alat berat yang ngos-ngosan,” ujar Toni menenangkan.
Jadi, buat warga Bekasi, sementara ini mohon maklum, sampahnya bukan tak diangkut, tapi sedang menunggu jalan pulang ke TPA yang lagi rebahan.***










