METROBEKASI.CO.ID — Sebuah istilah yang dulu dianggap biasa di lingkungan masyarakat Betawi Bekasi, kini mendadak ramai diperbincangkan publik setelah hadir dalam sebuah karya buku yang menyentuh sisi emosional pembacanya.
Adalah buku Bocah Ledok, karya R. Nur Alam, yang sejak resmi diluncurkan pada 16 Mei 2026 mulai banyak diburu pembaca dari berbagai kalangan. Bukan sekadar karena mengangkat perjalanan hidup seseorang menuju kesuksesan, tetapi juga karena buku ini membawa identitas kultur Bekasi yang selama ini jarang terekspos secara luas.
Di tangan pembacanya, Bocah Ledok bukan hanya dibaca sebagai autobiografi. Buku ini menjelma menjadi simbol perlawanan bagi mereka yang pernah diremehkan.
Istilah “Bocah Ledok” sendiri sangat akrab di telinga masyarakat Betawi Bekasi. Frasa itu merujuk pada seseorang yang dianggap “anak kemarin sore”, belum paham kehidupan, bahkan dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang merasa lebih senior atau lebih berhasil.
Namun justru dari istilah yang kerap bernada merendahkan itulah lahir sebuah narasi perjuangan.
Menariknya, sebelum buku ini hadir, mesin pencari seperti Google lebih banyak mengaitkan kata “Ledok” dengan istilah geografis di wilayah Jawa. Tetapi setelah buku Bocah Ledok mulai dikenal publik, pencarian terkait istilah tersebut perlahan bergeser dan mulai identik dengan kultur Betawi Bekasi.
“Saya termotivasi dengan keyword di Google yang sebelumnya menyebut istilah Bocah Ledok berbeda pengertian dengan bahasa Betawi khususnya Bekasi,” ujar R. Nur Alam.
Fenomena itu membuat banyak warga Bekasi merasa memiliki kedekatan emosional dengan buku tersebut. Sebab bagi mereka, “Bocah Ledok” bukan sekadar judul, melainkan potongan realitas hidup yang pernah dialami.
Hendri, staf di salah satu SD Negeri di Bekasi, mengaku sengaja mencari buku tersebut untuk diberikan kepada anaknya yang sedang kuliah di Banten.Menurutnya, kisah dalam buku itu mengandung nilai perjuangan yang relevan bagi anak muda saat ini.
“Saya ingin menghadiahkan buku ini untuk anak saya yang sedang kuliah di daerah Banten. Saya ingin ada inspirasi yang dipetik dari buku ini,” katanya.
Hal serupa disampaikan Imam, pelaku usaha reparasi mesin pendingin dan AC di wilayah Pebayuran, Kabupaten Bekasi. Ia merasa istilah “Bocah Ledok” sangat merepresentasikan perjalanan hidup masyarakat kecil yang berjuang dari bawah.
“Bocah Ledok mah sama kaya perjalanan hidup saya. Dulu waktu awal-awal merintis usaha reparasi mesin pendingin sekitar 2018, banyak yang meremehkan. Tetapi sekarang setelah tahu hasil yang saya peroleh, banyak masyarakat di sini yang ikut-ikutan buka usaha yang sama,” ujarnya sambil tersenyum.
Di tengah maraknya buku motivasi modern, Bocah Ledok justru hadir dengan pendekatan yang sederhana, membumi, dan dekat dengan kehidupan masyarakat akar rumput.
Tidak banyak istilah rumit.
Tidak juga penuh teori.
Tetapi cerita di dalamnya dianggap mampu menampar realitas sosial tentang bagaimana seseorang sering kali dipandang rendah karena latar belakang ekonomi, pendidikan, atau status sosialnya.
Karena itulah, banyak pembaca merasa buku ini seperti sedang menceritakan kehidupan mereka sendiri.
Bagi sebagian orang, diremehkan mungkin menjadi luka. Tetapi melalui Bocah Ledok, luka itu diubah menjadi energi perjuangan.
Dan dari Bekasi, sebuah istilah lokal yang dulu hanya hidup di obrolan warga kampung, kini perlahan mulai dikenal lebih luas lewat sebuah buku yang berbicara tentang harapan, perjuangan, dan pembuktian diri.***










