METROBEKASI.CO.ID – Senja baru saja turun perlahan di atas langit Margahayu, Bekasi Timur. Cahaya matahari yang mulai redup memantul di hamparan tanah kosong bekas lahan perumahan pengairan. Debu tipis beterbangan diterpa angin sore dan ilalang pun turut bergoyang.
Di tempat yang bagi sebagian orang hanya terlihat sebagai lahan terbengkalai, ratusan mata justru menemukan kebahagiaan sederhana yang nyaris hilang ditelan zaman: bermain layangan.
Anak-anak berlarian tanpa alas kaki. Remaja berteriak memberi aba-aba. Orang dewasa berdiri menengadah ke langit sambil menggenggam benang gelasan dengan wajah tegang. Sementara di udara, puluhan layangan menari, saling mengejar, saling mengadu, saling menjatuhkan.
Di tengah keramaian itu, Galeh datang dengan membawa puluhan layangan di tangannya.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai office boy di lingkungan DPRD Kota Bekasi itu baru saja pulang kerja. Kemeja kerjanya belum benar-benar lepas dari tubuh. Namun begitu angin sore berembus, Galeh berubah seperti anak kecil yang menemukan kembali dunianya yang hilang.
“Kalau sudah di sini, rasa capek hilang,” ucapnya sambil matanya terus mengikuti layangan di langit senja, Rabu (20/5/2026).
Baginya, bermain layangan bukan sekadar permainan. Ini tentang mengulang masa kecil yang pernah sederhana. Masa ketika kebahagiaan tidak membutuhkan layar ponsel, wifi, atau pusat hiburan mahal.
Di lahan kosong itu, status sosial seakan runtuh.Pegawai, buruh, pengangguran, anak sekolah, hingga orang tua bercampur tanpa sekat. Semua menatap langit yang sama.
Ada yang sekadar menikmati layangannya terbang tinggi. Ada pula yang datang dengan gengsi dan kemampuan. Mereka memainkan layangan adu dengan penuh perhitungan, mengatur tarikan benang, membaca arah angin, lalu bersiap memutus lawan di udara.
Sorak-sorai pecah setiap kali sebuah layangan kalah dan terputus.
Namun keramaian paling liar justru terjadi di bawah langit.
Di sana ada Imron, bocah kecil yang setiap sore selalu hadir di lokasi itu. Bukan untuk bermain layangan mahal. Bukan pula untuk mengadu kemampuan. Imron datang hanya untuk satu tujuan: mengejar layangan putus.
Bersama teman-teman sebayanya, ia berlari tanpa lelah melintasi tanah becek, semak liar, hingga saluran air kecil. Mata mereka tajam menatap ke udara, menunggu layangan mana yang jatuh lebih dulu.
Begitu ada teriakan “putuuusss!”, puluhan bocah langsung berhamburan seperti pasukan kecil yang sedang memburu harta karun.
Mereka saling dorong, tertawa, terpeleset, bangkit lagi, lalu terus berlari.
Layangan putus bagi mereka bukan sekadar barang bekas.
Itu adalah kemenangan.
Itu adalah kebanggaan.
Dan mungkin, di tengah hidup yang serba sulit, itu juga tentang bagaimana anak-anak kecil masih bisa menemukan alasan untuk bahagia dari sesuatu yang dianggap remeh oleh orang dewasa.
Menariknya, para pemain layangan di lahan kosong Margahayu itu tidak hanya berasal dari warga sekitar.
Ada yang datang dari Kelapa Dua, Bogor. Ada pula dari wilayah Kabupaten Bekasi. Mereka rela menempuh perjalanan jauh hanya demi satu hal: hobi yang tak pernah benar-benar mati.
Di tengah kota yang semakin sesak oleh beton, gadget, dan tekanan hidup, lahan kosong itu berubah menjadi ruang pelarian.
Tempat orang-orang melupakan sejenak tagihan hidup.
Tempat di mana langit kembali menjadi hiburan rakyat.
Dan menjelang magrib, ketika satu per satu layangan mulai diturunkan, langit Margahayu perlahan kembali kosong. Namun tawa anak-anak, teriakan para pemain, dan jejak langkah yang berlarian sore itu seakan meninggalkan pesan sederhana:
Kadang manusia tidak membutuhkan kemewahan untuk merasa hidup.
Cukup angin, langit terbuka, dan selembar layangan yang menari bebas di udara.***










