METROBEKASI.CO.ID – Pagi itu, langit Bekasi seolah ikut bersaksi. Udara masih menyimpan sisa dingin malam, namun kehangatan justru datang dari langkah-langkah ratusan warga Kampung Ceger RT 04 dan 05 RW 18, Kelurahan Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan. Mereka berjalan beriringan, mengenakan pakaian terbaik, membawa satu tujuan yang sama: bersujud dalam kemenangan.
Masjid Baitussalam di kompleks Pondok Pesantren Al Fath Bekasi menjadi pusat pertemuan itu. Namun, pagi ini ada yang berbeda. Ruang dalam masjid tak lagi mampu menampung gelombang jamaah yang terus berdatangan. Tanpa komando, tanpa keluhan, hamparan sajadah meluas hingga ke halaman. Aspal dan tanah menjadi saksi, bahwa semangat beribadah tak pernah mengenal batas ruang.
Di bawah langit terbuka, gema takbir mulai mengalun. Suara Dr. KH. Taufiq, MA mengalir lembut, namun menghunjam ke dalam dada. Setiap lafaz yang dilantunkan bukan sekadar suara, ia adalah getaran rindu, penyesalan, dan harapan yang berpadu. Beberapa jamaah tampak menunduk lebih dalam, sebagian lainnya menyeka air mata yang jatuh tanpa diminta.
Idul Fitri kali ini bukan hanya tentang kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ia menjadi ruang pertemuan batin, antara manusia dengan Tuhannya, dan antara manusia dengan sesamanya.
Ketika shalat dimulai, barisan saf tersusun rapi, bahkan hingga ke halaman. Tak ada perbedaan antara yang di dalam dan di luar. Semua menyatu dalam gerakan yang sama, dalam doa yang sama. Tanah yang dipijak, langit yang menaungi, semuanya menjadi bagian dari kekhusyukan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Khutbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Ust Rahmat menambah kedalaman suasana. Dengan suara yang tenang namun tegas, ia mengajak jamaah untuk tidak meninggalkan nilai-nilai Ramadan begitu saja. Ia mengingatkan bahwa kemenangan sejati adalah ketika manusia mampu menjaga hati tetap bersih, bahkan setelah hari raya usai.
Di tengah suasana haru itu, Ust Cecep Sujana, Ketua DKM Masjid Baitussalam sekaligus Ketua Yayasan Al Fath, menyampaikan pesan yang sederhana namun penuh makna. Ia mengapresiasi keguyuban warga selama Ramadan, tentang tarawih yang tak pernah sepi, tentang takjil yang dibagikan dengan tulus, dan tentang kebersamaan yang tumbuh tanpa pamrih.
“Masjid ini hidup karena kebersamaan kita,” ucapnya, sebelum kemudian menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin.
Pagi itu, tak ada sekat. Tak ada perbedaan. Yang ada hanya pelukan hangat, jabat tangan yang erat, dan mata yang saling menatap dengan ketulusan.
Di halaman Masjid Baitussalam, di antara sajadah yang terbentang hingga ke luar, Idul Fitri menemukan maknanya yang paling dalam: tentang manusia yang kembali, kepada fitrahnya, kepada sesamanya, dan kepada Tuhan yang tak pernah jauh.***










