METROBEKASI.CO.ID – Jalan H Dalih, Cikunir, Kelurahan Jakamulya, Bekasi Selatan, kembali menegaskan statusnya sebagai ruas jalan langganan banjir. Usai hujan mengguyur kawasan tersebut, jalan lingkungan yang seharusnya menjadi akses warga mendadak berubah menjadi kolam air terbuka, lengkap dengan anak-anak bermain riang dan deretan sepeda motor yang nekat menerobos genangan.
Pantauan di lokasi menunjukkan ketinggian air mencapai sekitar 40 sentimeter atau sepinggang anak-anak. Kondisi ini membuat aktivitas warga terganggu. Namun bagi anak-anak, banjir justru menjadi wahana hiburan gratis.
“Senang aja, bisa main air bareng teman-teman, gratis,” ujar Ibnu (7), polos, sambil berjalan di tengah genangan air bersama teman-temannya.
Motor Nekat Lewat, Tak Sedikit yang Tumbang
Di balik keceriaan anak-anak, banjir Jalan H Dalih menyisakan cerita klasik: sepeda motor mogok di tengah jalan. Sejumlah pengendara terlihat nekat menerobos genangan karena tidak memiliki jalur alternatif. Akibatnya, mesin mati mendadak dan motor harus dituntun keluar dari genangan.
Warga menyebut, kejadian motor mogok saat banjir di ruas jalan ini sudah seperti pemandangan rutin setiap musim hujan. “Kalau hujan deras, pasti ada aja motor yang mati. Mau lewat juga bingung, muter jauh,” kata salah satu warga.Ironisnya, kondisi ini terus berulang tanpa solusi nyata.
Bekas Rawa Jadi Pemancingan, Air Tak Lagi Punya Tempat Pergi
Di sisi Jalan H Dalih, terdapat bekas rawa yang kini beralih fungsi menjadi pemancingan umum. Warga menduga, perubahan fungsi lahan tersebut turut mengurangi daya serap air dan memperparah genangan saat hujan turun.
Saluran drainase di sekitar lokasi juga dinilai tidak memadai. Air hujan tertahan, mengalir lambat, lalu meluap ke badan jalan. Akibatnya, jalan berubah fungsi menjadi penampungan air dadakan.
Banjir Bekasi: Masalah Tahunan yang Tak Kunjung Tuntas
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, banjir masih menjadi bencana paling sering terjadi di wilayah ini setiap musim hujan. Ratusan titik rawan genangan tersebar di berbagai kecamatan, termasuk Bekasi Selatan.
Penyebabnya nyaris selalu sama:alih fungsi lahan, pendangkalan saluran air, buruknya drainase, serta minimnya kawasan resapan. Sayangnya, penanganan yang dilakukan pemerintah daerah kerap bersifat reaktif, bukan preventif.
Anak-anak Tertawa, Tapi Ini Alarm Bahaya
Pemandangan anak-anak bermain di banjir mungkin terlihat lucu dan menghibur. Namun di balik itu, tersimpan ironi besar. Ketika banjir sudah dianggap biasa, bahkan dijadikan tempat bermain, itu tanda kegagalan pengelolaan lingkungan yang dinormalisasi.
Air banjir berpotensi tercemar limbah, membahayakan kesehatan anak-anak, sekaligus merusak infrastruktur jalan dan kendaraan warga. Tapi semua itu seolah kalah oleh satu fakta pahit: banjir sudah terlalu sering datang untuk dianggap luar biasa.
Kritik untuk Pemerintah Kota Bekasi
Fenomena “wisata air gratis” di Jalan H Dalih Cikunir seharusnya menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kota Bekasi. Kota yang terus tumbuh tidak seharusnya membiarkan jalan berubah jadi sungai, dan anak-anak menjadikan banjir sebagai taman bermain.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, publik pantas bertanya:apakah banjir di Bekasi sedang ditangani, atau justru dibiarkan menjadi tradisi musiman?
Anak-anak mungkin tertawa hari ini. Namun jika tak ada perubahan, yang tersisa esok hari hanyalah air, lumpur, dan janji yang kembali tenggelam.***










