METROBEKASI.CO.ID – Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, membawa pulang sejumlah gagasan strategis usai kunjungan kerja ke Tiongkok. Fokus utama lawatan tersebut adalah menjajaki kerja sama dengan Jinluo Water Co., Ltd. untuk penerapan teknologi ramah lingkungan dan efisien dalam manajemen air, limbah, serta pengelolaan lingkungan modern.
Didampingi jajaran Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkimtan), rombongan mempelajari langsung sistem dan fasilitas pengolahan di sana sebagai referensi bagi pengembangan infrastruktur di Kota Bekasi.
Optimalisasi pengelolaan sampah menjadi salah satu fokus utama yang dibahas Tri Adhianto setibanya di Bekasi. Pemerintah Kota, jelasnya, tengah mengupayakan pengolahan sampah skala besar, termasuk rencana pemusnahan hingga 1.400 ton sampah per hari yang dapat dikonversi menjadi energi listrik.
“Bagaimana sampah kita optimalisasikan, mengurangi sampah dari dulu, kemudian hari ini alhamdulillah kita sudah mengajukan 1.400 ton per hari yang bisa kita musnahkan menjadi tenaga listrik,” ungkap Tri kepada wartawan, Senin (15/12/25).
Selain sampah padat, Pemkot Bekasi juga mendalami teknologi pengolahan air lindi (cairan kotor dari timbunan sampah) serta limbah tinja. Menurut Tri, pengelolaan limbah cair merupakan tantangan penting seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas industri di wilayahnya.
Ia menegaskan bahwa secara sanitasi dasar, Bekasi telah mencapai kemajuan signifikan. Program Open Defecation Free (ODF) diklaim telah selesai, dan praktik buang air besar sembarangan atau “jamban helikopter” sudah tidak ditemukan lagi.
Sebagai kelanjutan dari capaian ODF, Pemkot kini mengembangkan konsep pengelolaan tinja yang lebih terstruktur. Sebuah percontohan telah berjalan di RW Margahayu, di bawah binaan Puskesmas Karangkitri. Skema ini memungkinkan warga menabung Rp10.000 melalui pengurus RW, sehingga mereka dapat melakukan penyedotan WC secara terjadwal tanpa harus menunggu tangki penuh.
Model ini dinilai efektif dalam mendorong kesadaran kolektif dan memastikan pengelolaan limbah tinja yang aman.
Tri Adhianto juga menyoroti masih banyaknya kawasan industri maupun fasilitas umum yang belum menerapkan sistem pengolahan tinja yang baik dan benar. Oleh karena itu, hasil pembelajaran dari Tiongkok diharapkan dapat menjadi dasar penerapan teknologi serupa di Kota Bekasi.
Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Kota Bekasi dalam memperkuat pengelolaan lingkungan berbasis teknologi, sekaligus menjawab tantangan sampah dan sanitasi perkotaan secara berkelanjutan.***









