Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
banner 970x250
METROPOLITAN

Pesta di Atas Tangisan Bencana Sumatera”: Pemkot Bekasi Dikecam Warga Karena Ngotot Gelar “Pestapora”

×

Pesta di Atas Tangisan Bencana Sumatera”: Pemkot Bekasi Dikecam Warga Karena Ngotot Gelar “Pestapora”

Sebarkan artikel ini
pemkot bekasi
DESAKAN: Elemen masyarakat Kota Bekasi mendesak pesta bertajuk Pesona Nusantara Bekasi Keren dibatalkan.

METRO BEKASI – Keputusan Pemerintah Kota Bekasi untuk tetap melangsungkan acara “Pestapora Pesona Nusantara Bekasi Keren” yang dijadwalkan pada 7 Desember 2025 menuai kecaman keras dari berbagai elemen masyarakat. Acara ini dinilai tidak etis dan minim empati di tengah duka mendalam yang dialami para korban bencana alam di Sumatera.

Kritikan tajam datang dari Mamah Yola, seorang ibu dua anak asal Jakasetia, Bekasi Selatan. Ia melontarkan kekecewaan mendalam terhadap prioritas pemerintah kota yang tampak kontras dengan realitas yang ada.

Example 300x600

“Pejabatnya pesta, sana sini ngelantik, rakyat noh lagi nangis kehilangan anak, orangtua, saudara,” ujar Mamah Yola dengan nada tinggi pada Rabu (4/12/2025).

BACA JUGA :  Badai OTT Bupati Bekasi: Pejabat Ramai-Ramai ‘Tiarap’, Gaya Hidup Mewah Dirum Tirta Bhagasasi Disorot

Mamah Yola menegaskan bahwa perayaan semacam itu bukanlah simbol kesejahteraan daerah, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit. Ia mempertanyakan dasar kebijakan yang diambil oleh pemerintah kota.

“Lagian pesta mulu. Pesta emang lambang kesejahteraan suatu daerah? Iya pesta kalau yang megang duit mah senang-senang, kalau yang lagi susah nyari duitnya. Pakai otak menjalankan kebijakan!,” tambahnya.

Anggaran Dipertanyakan, Kemanusiaan Di Atas Segalanya

Sentimen serupa disampaikan oleh Budi Sukmana, Sekretaris Pusat Lembaga Sosial Pemuda Nusantara. Ia menyayangkan sikap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi, Dzikron, yang bersikeras melanjutkan kegiatan tersebut.

BACA JUGA :  Kabar Baik untuk Perangkat Wilayah: Honor RT/RW di Kota Bekasi Naik Signifikan

Meskipun dibalut dalam bingkai pentas seni dan kebudayaan, Budi menilai kegiatan ini tidak relevan dengan situasi saat ini. Selain kondisi perekonomian masyarakat yang tertekan dan adanya bencana alam yang memakan banyak korban jiwa, pemerintah pusat sendiri telah menganjurkan efisiensi anggaran untuk kegiatan yang tidak substansif.

“Apa dalilnya pesta yang diperkirakan menelan anggaran tidak cukup 10 hingga 100 juta? Jangan berkilah soal melestarikan kebudayaan. Ingat, kemanusiaan di atas segalanya!,” tegas Budi.

Aktivis Minta Anggaran Dialihkan untuk Korban Bencana

Gelombang penolakan dipastikan akan berlanjut. Berbagai aktivis mahasiswa dan pemuda berencana menggelar aksi unjuk rasa untuk mengetuk empati dan nurani Wali Kota Bekasi agar membatalkan acara tersebut.

BACA JUGA :  M. Rizky Yusa Maulana dan Almaida Marthasari Pimpin PMII Kota Bekasi 2025–2026

Juhartono, aktivis dari Barisan Muda Bekasi, mendesak agar anggaran pesta dialihkan untuk membantu korban bencana di Sumatera.

“Kita minta batalkan kegiatan ini. Dari pada anggarannya untuk pesta, lebih baik kita berikan untuk korban bencana Sumatera,” tegas Juhartono.

Ia mengingatkan kembali pentingnya solidaritas dan empati, merujuk pada pengalaman masa lalu ketika Kota Bekasi dilanda bencana.

“Ingat! Saat Kota Bekasi dilanda bencana, seluruh penjuru negeri berbondong-bondong mengulurkan tangannya membantu warga di sini. Itu bentuk empati mereka kepada kita,” pungkasnya.***