METRO BEKASI – Keputusan Pemerintah Kota Bekasi untuk tetap melangsungkan acara “Pestapora Pesona Nusantara Bekasi Keren” yang dijadwalkan pada 7 Desember 2025 menuai kecaman keras dari berbagai elemen masyarakat. Acara ini dinilai tidak etis dan minim empati di tengah duka mendalam yang dialami para korban bencana alam di Sumatera.
Kritikan tajam datang dari Mamah Yola, seorang ibu dua anak asal Jakasetia, Bekasi Selatan. Ia melontarkan kekecewaan mendalam terhadap prioritas pemerintah kota yang tampak kontras dengan realitas yang ada.
“Pejabatnya pesta, sana sini ngelantik, rakyat noh lagi nangis kehilangan anak, orangtua, saudara,” ujar Mamah Yola dengan nada tinggi pada Rabu (4/12/2025).
Mamah Yola menegaskan bahwa perayaan semacam itu bukanlah simbol kesejahteraan daerah, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit. Ia mempertanyakan dasar kebijakan yang diambil oleh pemerintah kota.
“Lagian pesta mulu. Pesta emang lambang kesejahteraan suatu daerah? Iya pesta kalau yang megang duit mah senang-senang, kalau yang lagi susah nyari duitnya. Pakai otak menjalankan kebijakan!,” tambahnya.
Anggaran Dipertanyakan, Kemanusiaan Di Atas Segalanya
Sentimen serupa disampaikan oleh Budi Sukmana, Sekretaris Pusat Lembaga Sosial Pemuda Nusantara. Ia menyayangkan sikap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi, Dzikron, yang bersikeras melanjutkan kegiatan tersebut.
Meskipun dibalut dalam bingkai pentas seni dan kebudayaan, Budi menilai kegiatan ini tidak relevan dengan situasi saat ini. Selain kondisi perekonomian masyarakat yang tertekan dan adanya bencana alam yang memakan banyak korban jiwa, pemerintah pusat sendiri telah menganjurkan efisiensi anggaran untuk kegiatan yang tidak substansif.
“Apa dalilnya pesta yang diperkirakan menelan anggaran tidak cukup 10 hingga 100 juta? Jangan berkilah soal melestarikan kebudayaan. Ingat, kemanusiaan di atas segalanya!,” tegas Budi.
Aktivis Minta Anggaran Dialihkan untuk Korban Bencana
Gelombang penolakan dipastikan akan berlanjut. Berbagai aktivis mahasiswa dan pemuda berencana menggelar aksi unjuk rasa untuk mengetuk empati dan nurani Wali Kota Bekasi agar membatalkan acara tersebut.
Juhartono, aktivis dari Barisan Muda Bekasi, mendesak agar anggaran pesta dialihkan untuk membantu korban bencana di Sumatera.
“Kita minta batalkan kegiatan ini. Dari pada anggarannya untuk pesta, lebih baik kita berikan untuk korban bencana Sumatera,” tegas Juhartono.
Ia mengingatkan kembali pentingnya solidaritas dan empati, merujuk pada pengalaman masa lalu ketika Kota Bekasi dilanda bencana.
“Ingat! Saat Kota Bekasi dilanda bencana, seluruh penjuru negeri berbondong-bondong mengulurkan tangannya membantu warga di sini. Itu bentuk empati mereka kepada kita,” pungkasnya.***










