KOTA BEKASI – Di tengah udara hangat sore Bekasi Selatan, Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe hadir bukan sekadar bersilaturahmi, tapi juga menyerap semangat kebudayaan khas Betawi yang kental dengan logat, tawa, dan tentu saja goloknya.
Acara silaturahmi Forum Komunikasi Kaum Betawi Indonesia (FORKKABI) di kantor DPD FORKKABI Kota Bekasi, Vila Pekayon, berlangsung penuh nuansa kekeluargaan. Sambutan hangat datang dari jajaran pengurus FORKKABI serta tokoh Betawi nasional, Mayjen (Purn) Nachrowi Ramli, yang hadir dengan gaya khasnya tenang tapi berisi.
Bang Harris, sapaan akrab sang Wakil Wali Kota, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kebersamaan lintas unsur masyarakat dalam membangun Kota Bekasi. Bukan cuma soal infrastruktur, tapi juga soal rasa karena kota yang besar tak hanya dibangun dari semen, tapi juga dari semangat warganya.
“Membangun Bekasi sebagai kota global nggak bisa sendirian. Harus bareng-bareng, melibatkan semua unsur, termasuk FORKKABI. Tahun depan kita jadi tuan rumah Porprov Jabar, ini saatnya budaya Betawi ikut tampil, bukan cuma di panggung, tapi juga di sikap dan gotong royongnya,” ujar Bang Harris dengan nada penuh semangat.
Menurutnya, pembangunan Kota Bekasi kini bergerak cepat. Pemerintah sedang memperkuat berbagai sektor, termasuk potensi lokal dan budaya daerah. Salah satunya proyek destinasi air di Kalimalang, yang kelak diharapkan menjadi ikon wisata sekaligus sumber pendapatan daerah baru.
“Kita mau kawasan Kalimalang bukan cuma tempat lewat, tapi tempat mampir. UMKM lokal bisa hidup, budaya lokal bisa tampil. Bekasi ini kaya dari kuliner sampai karakter warganya,” tambahnya sambil tersenyum.
Bang Harris juga sempat menyinggung betapa kuatnya solidaritas warga Bekasi di tengah situasi nasional yang sempat panas di beberapa daerah.
“Saat kota lain ribut, Bekasi adem. Itu karena warganya kompak, saling jaga, dan tahu cara menghormati satu sama lain. Ini modal sosial yang mahal,” ujarnya disambut tepuk tangan.
Tak lupa, ia mengingatkan pentingnya melestarikan budaya Betawi sebagai bagian dari pendidikan karakter bagi generasi muda.
“Anak muda sekarang harus tetap kenal akar budayanya. Dari Betawi kita belajar adab, sopan santun, dan keberanian. Itu bekal buat masa depan mereka,” tutur Bang Harris.
Sementara itu, Nachrowi Ramli mengapresiasi langkah silaturahmi ini sebagai bentuk komunikasi sehat antara pemerintah dan masyarakat.
“Kita ini harus sering-sering kumpul begini. Supaya pembangunan itu bukan sekadar proyek, tapi juga gerakan bersama. Pemerintah perlu rakyat, rakyat perlu pemerintah,” ucapnya bijak.
Sebagai penutup penuh makna, FORKKABI memberikan cendera mata khas Betawi: Golok Betawi kepada Bang Harris bukan sebagai simbol perlawanan, tapi penghormatan. Golok itu bukan untuk menebas, tapi untuk mengingatkan: bahwa adat, budaya, dan karakter Betawi adalah kekuatan yang menjaga Bekasi tetap tegak di tengah derasnya arus modernitas.
Dengan tawa, pantun, dan semangat kebersamaan, acara itu menegaskan satu hal: di Bekasi, silaturahmi bisa jadi strategi pembangunan, dan golok Betawi pun bisa lebih tajam dari birokrasi karena ia menyentuh hati, bukan hanya meja rapat.***










